18 March 2011 - Stories

Keluarga Kristen

Kehidupan Pernikahan ibarat sebuah bahtera yang sedang mengarungi samudera luas mencari pelabuhan sentosa baginya. Di dalamnya suami dipercaya oleh Tuhan untuk memegang kemudi sementara Nakhoda dari bahtera tersebut adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri sebagai Pemilik dari bahtera (nikah). Sering kali bahtera harus berlayar menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya menembusi hujan badai, pekatnya malam dan hantaman keras gelombang samudera yang mengancam untuk menenggelamkannya. Di lain waktu, ia menempuh perjalanan tenang dengan cuaca cerah, laut tidak berombak, angin sepoi-sepoi dan semua dalam keadaan baik.
Sebagai ‘juru mudi’, sang suami memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Ia harus dapat mengendalikan bahtera sebaik mungkin seperti: menghindari karang-karang di bawah samudera yang tidak terlihat yang terus menerus mengancam untuk merobek lambung bahtera, mengenali angin-angin yang menguntungkan atau merugikan bagi pelayaran, mengetahui pelabuhan-pelabuhan yang aman untuk singgah mengisi persediaan keperluan sehari-hari sebelum mencapai pelabuhan sentosa dan sejahtera sebagai tujuan akhir. Terkadang ia harus menghadapi perompak-perompak yang ingin merebut seluruh isi bahtera dan berusaha membunuh penghuni yang ada di dalamnya.
Namun terkadang juru kemudi (suami) lupa akan seorang penolong (istri) yang ada di sampingnya, juga awak-awak bahtera (buah nikah) yang telah sering membantunya. Sering ia merasa mampu tanpa mereka, merasa lebih berpengalaman, lebih pandai karena dapat membaca situasi yang dihadapinya. Akibatnya, dia menjadi sombong dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Bahkan dia mengabaikan ‘Nakhodanya’ dan membiarkan sang Nakhoda tertidur jauh di buritan kapal. Ia tidak sadar kalau bahtera tersebut bukan miliknya tetapi ada Pemilik yang tidak diindahkannya.
Suatu kali di malam gelap pekat, awan hitam menggantung di langit menyembunyikan bintang-bintang dari pandangannya, di saat itulah ia mengalami banyak kesulitan. Ia tidak tahu lagi arah ke mana harus pergi dan tersesatlah di dalam kegelapan malam di tengah samudera. Awan badai mengancam untuk menenggelamkan bahtera belum lagi angin menderu-deru kencang dan hujan deras menerpa. Benar-benar situasi yang mencekam dan mengerikan! Apa yang dapat dilakukannya?
Saat itu barulah sadar bahwa ia telah mengabaikan si Pemilik bahtera yang sedang tidur di buritan. Akankah ia berteriak membangunkan sang Nahkoda yang berdaulat penuh bukan saja atas bahtera tetapi juga atas angin dan lautan yang menderu? Ataukah ia tetap bertahan di dalam kesombongannya dan membuat seluruh isi bahtera menderita?
Jika ia bersikap bijaksana, ia akan datang berteriak membangunkan sang Nakhoda dan tersungkur di kaki-Nya memohon ampun atas segala kesalahannya dan percaya bahwa Yesus, sang Nakhoda, sanggup meredakan badai yang menerpa dan membuat samudera tenang kembali serta memohon agar si Nakhoda mengambil alih arah tujuan bahtera sampai mencapai pelabuhan aman dan damai sentosa sebagai tujuan akhir.
Dalam suatu keluarga hendaklah kita mengerti fungsi masing masing. seorang suami akan bertindak sebagai juru mudi dan seorang isteri sebagai seorang penolong dan selalu mengerti apa yang dibutuhkan sang juru mudi, anak anak sebagai awak yang mendukung dalam rumah tangga.

Artikel ini dikirim oleh maya hadiwidjaya <h.maya777@yahoo.com>

Komentar

Belum ada komentar mengenai artikel ini.

Berikan Komentar

Bantuan Doa atau Pelayanan

Jika Anda membutuhkan bantuan doa atau layanan lainnya silahkan menghubungi kami melalui link berikut ini - Kontak Kami
GBI El Shaddai Pontianak
Jl. Prof M Yamin No. 1A, Kota Baru, Pontianak 78116
Telp. 0561 - 765495 - Fax. 0561 - 748250
copyrights © GBI El Shaddai Pontianak - Shine, Bless and Glory allrighs reserved.