7 February 2011 - Stories

Never Surrender!

Babak pertama, AC Milan unggul 3-0 atas Liverpool FC. Banyak pengamat
sudah memberikan komentar bahwa itulah waktunya AC Milan kembali juara
setelah sekian lama. Memasuki babak ke-2, Liverpool mengejar
ketinggalan hingga akhirnya menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Dan
akhirnya, Liverpool FC memenangkan pertandingan lewat adu penalti.
Luar biasa!

Perjuangan Liverpool tersebut memberikan suatu gambaran yang luar
biasa tentang kebangkitan dari keterpurukan. Tidak masalah sejauh mana
mereka ketinggalan, namun mereka bangkit dan akhirnya menang. Tentu
perjuangan Liverpool tidak seperti membalikkan telapak tangan. Setiap
orang tentu pernah mengalami kegagalan-kegagalan yang membuatnya
terpuruk. Namun, yang membedakan dari setiap orang adalah bagaimana
mereka bangkit dari keterpurukannya.

Keterpurukan yang dimaksud adalah suatu keadaan di mana seseorang
tidak mengalami hidup. Dia memang hidup secara biologis, namun di
dalam sanubarinya tidak ada suatu passion (gairah) untuk menjalani
hidup. Jadi, di luarnya kelihatan hidup, namun di dalamnya sebenarnya
sudah sekarat. Apakah Saudara pernah mengalami keadaan seperti ini?
Banyak orang hanya mengatakan kepada orang-orang yang patah semangat,
“everything is gonna be ok!”. Tetapi tetap pertanyaan besarnya adalah,
“how everything is gonna be ok?” Tentu keadaan tidak akan menjadi baik
dengan tidak melakukan apa-apa. Harus ada usaha yang besar untuk
bangkit! Ada beberapa hal yang dapat menjadi prinsip supaya kita dapat
bangkit dari keterpurukan.

Terima kegagalan

Ketika menemui kegagalan, kita cenderung menghibur diri dengan
mengatakan pada diri kita bahwa tidak ada yang salah pada kita dan
mulai menyalahkan orang lain. Ini adalah kecenderungan yang tidak
baik. Kecenderungan ini hanyalah membawa kita kepada sebuah ilusi
bahwa kita sebenarnya tidak gagal. Ilusi tersebut tidak akan
menyembuhkan kita sepenuhnya. Cepat atau lambat kita akan menyadari
lagi bahwa kita gagal.
Kegagalan harus diterima meski itu pahit rasanya. Menerima kegagalan
akan membuat kita menyadari keadaan kita sebenarnya dan selanjutnya
mencari cara bagaimana kita dapat bangkit. Perlu diingat bahwa kita
jangan menerima kegagalan terlalu berlebihan dengan menghukum diri
sendiri karena itu akan membawa kita kepada keterpurukan. Menghukum
diri sendiri atas kegagalan juga merupakan sikap yang tidak baik.

Menerima kegagalan harus disertai dengan pengendalian diri. Kita harus
mengatakan pada diri kita, “Saya memang jatuh tapi saya tidak akan
jatuh hingga tergeletak”. Sikap tersebut akan membawa kita untuk dapat
berpikir “ke depan” bukan “ke belakang”. Yang dimaksud dengan berpikir
ke belakang adalah menyesali kegagalan, “seandainya saya…, maka hal
ini tidak perlu terjadi.”. Orang yang berpikir “ke depan” mengatakan,
“saya gagal karena….Selanjutnya bagaimana saya memperbaikinya?”.
Dengan kata lain, berpikir ke depan tidak memusingkan faktor-faktor
kegagalannya, melainkan memikirkan bagaimana memperbaikinya.

Terbuka terhadap bantuan

Seringkali seseorang menghadapi kegagalan dan berusaha untuk
memperbaikinya sendiri. Setiap orang lain hendak membantunya, dia
menolaknya dan memberikan kesan bahwa dirinya baik-baik saja. Sikap
hati seperti ini hanyalah membuat kita lebih buruk. Dari sekian
kesaksian orang-orang yang bangkit dari keterpurukan, saya selalu
menemukan ada orang-orang lain yang membantu mereka.
Orang yang mengalami kegagalan tidak mampu untuk mendorong dirinya
sendiri. Pada awalnya, mungkin dia dapat memotivasi diri sendiri.
Tetapi, itu sebenarnya belum cukup untuk membuatnya mantap untuk
bangkit. Bahkan, ketika kita berada di dalam kegagalan, kita cenderung
untuk melihatnya dari sudut pandang yang sempit. Kita butuh orang lain
yang dapat menolong kita untuk dapat melihat gambaran besar atau big
picture dari kegagalan kita. Orang lain yang mampu untuk memberikan
kita orientasi ketika kita mengalami disorientasi.

Tetapkan strategi

Kembali kepada kisah dramatis final Liga Champions 2006. Kemenangan
Liverpool bukanlah sesuatu yang dikerjakan tanpa strategi. Rafael
Benitez (pelatih Liverpool saat itu) pasti menyusun strategi untuk
merebut kemenangan. Seringkali, strategi diilustrasikan sebagai sebuah
jembatan untuk membawa kita kepada tujuan (goal). Tujuan boleh
ditetapkan, tetapi jika tidak ada strategi, maka tujuan tidak akan
mungkin tercapai.
Strategi membuat kita dapat melihat tujuan dengan jelas. Dengan kata
lain, strategi membuat tujuan makin dapat dicapai. Sebagai contoh,
ketika Daud berhadapan dengan Goliath, yang adalah raksasa dengan
persenjataan lengkap. Tujuan Daud merupakan suatu tujuan yang besar
dan berpeluang besar untuk gagal. Namun, Daud membuat strategi yang
jitu. Dia membuat umban yang berisi batu kali dan melemparkan itu ke
bagian vital dari Goliath, yaitu kepalanya, sehingga batu itu terbenam
di kepalanya dan tewas seketika.

Strategi haruslah merupakan langkah-langkah yang tersusun rapi,
konkrit, dan sambung-menyam-bung menjadi satu (terintegrasi) menuju
kepada tujuan. Tersusun rapi maksudnya adalah langkah-langkah tersebut
disusun secara sistematis. Contoh, Rencana Pembangunan Lima Tahun
(Repelita) Indonesia sewaktu masa pemerintahan Soeharto, disusun
secara bertahap dan sistematis, seperti Repelita I, II, III, dan
seterusnya. Masing-masing Repelita mempunyai sasaran yang semakin
lama, sasarannya semakin besar. Sasaran Repelita III tidak akan
tercapai, jika sasaran Repelita I belum tercapai. Ini yang dinamakan
dengan langkah-langkah yang terintegrasi.

Jalani strategi

Prinsip yang keempat adalah menjalankan strategi. Di dalam permainan
sepakbola,  tim yang kalah, dapat disebabkan oleh keengganan pemain
untuk menerapkan strategi pelatihnya. Menjalani strategi butuh
disiplin dan kemauan yang kuat.
Strategi merupakan jalan kembali ke kejayaan (path to glory). Tekuni
itu, maka kita akan bangkit dari keterpurukan dan berjalan menuju
keberhasilan. Perlu diingat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat
mengetahui panjangnya path to glory. Orang tertentu butuh waktu yang
pendek untuk mencapai keberhasilan. Thomas Alfa Edison butuh waktu
yang lama, berupa beribu-ribu pencobaan untuk berhasil menemukan
bohlam lampu. Berapa pun panjangnya path to glory, jika kita tekuni
akan terasa nikmat.

 

Artikel ini disumbangkan oleh Sdr. Tju Kian Cung

Komentar

men - 2011-02-08 21:08:15
Thanks for the reference this is exactly what I need for my project.
math games - 2011-02-13 18:22:20
thanks
Moore - 2011-02-16 08:39:12
thanx bro

Berikan Komentar

Bantuan Doa atau Pelayanan

Jika Anda membutuhkan bantuan doa atau layanan lainnya silahkan menghubungi kami melalui link berikut ini - Kontak Kami
GBI El Shaddai Pontianak
Jl. Prof M Yamin No. 1A, Kota Baru, Pontianak 78116
Telp. 0561 - 765495 - Fax. 0561 - 748250
copyrights © GBI El Shaddai Pontianak - Shine, Bless and Glory allrighs reserved.