5 July 2011 - Khotbah

Pesan Gembala : Menabur dan menuai

Beberapa peristiwa tampaknya menjadi sebuah jalan hidup. Contohnya, Anda tidak pernah mendapatkan nada sibuk jika Anda memutar nomor yang salah. Anak-anak kelihatannya tidak pernah menumpahkan makanan mereka di lantai yang kotor, dan antrean di toko bahan makanan selalu yang terpanjang jika Anda sedang terburu-buru.

Tampaknya saat menunggu dalam antrean di bank, pompa bensin, atau toko bahan makanan, antrean lain di sebelah Anda bergerak lebih cepat.

Prinsip tambahan yang aneh mungkin mencakup juga: Selalu hujan di akhir pekan, sepertinya Anda selalu sakit di saat cuti, dsb. Ada hukum dasar alam. Hukum kehidupan adalah memberi. Jika uang harus berguna, uang harus digunakan. Dalam hukum menabur dan menuai: Inilah beberapa hal yang harus dipikirkan:


1. Benih yang kita tanam adalah jenis yang sama dengan yang kita tuai – benih sejenis.

Satu fenomena ciptaan Allah adalah bahwa benih yang kita tanam berasal dari buah yang dituai. Kita melihat ini dalam kehidupan. Orangtua sering kali melihat karakter diri mereka pada anak-anak mereka, baik maupun buruk. Setiap kita harus memberikan contoh yang baik, sebab hidup ini dihabiskan untuk menanam. Anda tidak punya pilihan lain kecuali menabur. Ketika kita menabur benih keuangan ke dalam Kerajaan Allah, kita mendapat keuntungan dari benih yang sama.


2. Kita yang menentukan ukuran tuaian pada saat menanam (2 Korintus 9:6,8,11).

Petani yang menanami ratusan atau ribuan are tanah mengetahui bahwa, jika tidak ada bencana alam, ia akan menuai lebih banyak daripada yang ia tabur, namun selalu dalam proporsi dengan apa yang ia tanam. Orang yang murah hati dengan waktunya, talentanya, dan sumber dayanya akan menuai dengan limpah. Orang yang murah hati dengan kasih, penghargaan, dan belas kasihan akan menuai sesuai dengan proporsi sifat-sifat yang ia taburkan.

Orang yang memberi lebih dari persepuluhannya (persepuluhan adalah milik Allah) baru saja mulai memberi. Semakin banyak orang memberi, semakin banyak ia menuai. Namun, jangan hanya melihat balasan dalam ukuran keuangan. Kesehatan yang baik lebih penting daripada uang. Keluarga yang melayani lebih penting dibandingkan rupiah.


3. Kita akan selalu mempunyai tuaian (Maleakhi 3:10; Galatia 6:9)

Tidak ada orang yang pernah mengalami gagal panen. Hukum ini sama pastinya seperti terbit dan terbenamnya matahari. Keberhasilan panen tidak ditentukan oleh hukum alam, namun diatur oleh Tuhan sendiri. Haruskah Anda menabur benih Anda di tempat ibadah lokal di mana Anda dan keluarga Anda menerima banyak berkat? Tentu saja! Akan anda menuai panen? Pasti! Anda dan keluarga Anda menuai panen yang baik setiap kali pendeta gereja lokal Anda mengkhotbahkan firman Allah dan menabur benih yang baik ke dalam hidup anda.


4. Anda biasanya akan menuai beberapa waktu setelah menabur.

Anda tidak usah terlalu lama mengelilingi sebuah pertanian untuk mempelajari bahwa baik pertumbuhan maupun pembusukan membutuhkan waktu. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani kita. Mungkin inilah alasan Paulus memperingatkan bahwa kita tidak boleh tertipu. Ada peringatan tentang menabur dalam daging. Tidak ada yang terjadi saat itu juga. Pernikahan tidak runtuh dalam sekejap. Menjauh dari hal-hal yang benar biasanya tidak terjadi dalam semalam. Orang menjadi tertipu dan tidak menyadari apa yang terjadi sampai mereka terperangkap. Walaupun kita menerima banyak keuntungan segera jika kita menabur dalam gereja lokal kita, hal itu tidak berhenti di situ. Kita terus menuai panen sepanjang hidup kita karena benih itu terus berlipat ganda.


5. Kita akan selalu menuai lebih banyak daripada yang kita tanam (Matius 13:8)

Ketika kita menanam sebutir biji jagung, kita menuai sebatang tanaman jagung dengan beberapa bonggol jagung. Pada bonggol-bonggol jagung itu terdapat ratusan butir jagung. Demikian juga dengan sebatang gandum. Hanya Allah yang dapat merancang keajaiban ini. Hukum pengembalian yang bertambah ini membuat pertanian menjadi suatu usaha yang dapat dijalankan. Tetapi, menabur menurut Roh memberi hasil dalam kehidupan kekal. 1 Korintus 2:9 berkata, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”


6. Ada waktu untuk menanam dan ada waktu untuk menuai (Pengkhotbah 3:1-2)

Tidak semua tuaian segera mengikuti. Unsur waktu itu penting. Jika benih bertunas sebelum waktunya, tuaian dapat hilang. Banyak pemberian yang sepertinya tidak akan menghasilkan tuaian. Sebagian orang mengira Allah tidak memperhatikan apa yang mereka tanam hanya karena mereka tidak mengalami tuaian. Namun, jika kita menanam benih, tuaian akan datang. Contohnya, renungkanlah Amsal 22:6 : “Didiklah anak muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. Janjinya adalah apabila kita terus menanam benih pendidikan rohani sejak si anak masih kecil, maka dalam musim kehidupan yang lain anak itu tidak akan melupakan didikan yang telah diperolehnya. Maka, sebagai orangtua atau kakek nenek kita pun menikmati tuaian, sekalipun baru sekian tahun kemudian.


7. Benih dapat ditaburkan secara rahasia; namun, tuaian selalu dilihat banyak orang.

Kita tidak melihat atau mendengar semua jerih payah,keringat, dan air mata yang dicurahkan seseorang untuk menanam benih. Bagi mereka yang tidak mengerjakannya sepertinya penanaman itu baru kemarin. Pada waktunya, petani akan melihat ladang emas bergoyang ditiup angin.


8. Kita bertanggung jawab untuk menabur dan Allah bertanggung jawab atas tuaian.

Kita bekerja keras bersama Allah. Allah tidak memproduksi kegagalan; Dialah Tuhan tuaian. Dengan hukum yang Allah atur ini, kita harus menabur benih yang akan memberi buah sekarang dan sampai kekal. Dialah Tuhan tuaian. Saat kita memasuki setiap musim baru, kita harus mengawali dengan menanam.


(Sumber : Prinsip-prinsip Alkitabiah dalam mengelola perbendaharaan uang anda; Frank Damazio & Rich Brott)


Komentar

sabinah ansumor - 2014-12-27 17:17:19
terima kasih kepada pastor-pastor yang menabur firman Tuhan dengan air mata kerana serba kekurangan tapi memberi kita berkat berlimpah melalui pengajaran firman Tuhan.saya tak pernah henti-hentinya menerima berkat Tuhan kerana perpuluhan yang saya kembalikan kepada Tuhan.saat saya menyedari Tuhan memberkati saya,saya mengembalikan semua perpuluhan saya tanpa mengambil sedikit pun malah saya mulai memberi persembahan yang tetap kepada Tuhan.Saat saya menghadapi masalah berat Tuhan datang memberitahu apa yang harus saya lakukan.Apa yang dapat saya balas kepada Tuhan selain air mata untuk mengucap syukur
sabinah ansumor - 2014-12-27 17:18:43
saat saya menyedari Tuhan memberkati saya,saya mengembalikan semua perpuluhan saya tanpa mengambil sedikit pun malah saya mulai memberi persembahan yang tetap kepada Tuhan.Saat saya menghadapi masalah berat Tuhan datang memberitahu apa yang harus saya lakukan.Apa yang dapat saya balas kepada Tuhan selain air mata untuk mengucap syukur
sabinah ansumor - 2014-12-27 17:23:21
terima kasih para pastor yang menabur firman Tuhan.Walaupun ada yang menabur dalam kekurangan Tuhan pasti memberi tuaian yang besar.Kami ada untuk bersama kalian melayani kalian kerana kami sangat mengasihi Tuhan Yesus,saudara kita yang sulung.

Berikan Komentar

Bantuan Doa atau Pelayanan

Jika Anda membutuhkan bantuan doa atau layanan lainnya silahkan menghubungi kami melalui link berikut ini - Kontak Kami
GBI El Shaddai Pontianak
Jl. Prof M Yamin No. 1A, Kota Baru, Pontianak 78116
Telp. 0561 - 765495 - Fax. 0561 - 748250
copyrights © GBI El Shaddai Pontianak - Shine, Bless and Glory allrighs reserved.